Sabtu, 05 Juli 2014

Bukti Bahwa Meningkatkan Kunjungan Hingga 5X Lipat Tanpa Google Itu Mungkin

Salam,

Aku ingin berbagi sesuatu yang cukup menakjubkan sepanjang karirku sebagai pemasar konten (content marketer). Tepat di awal bulan puasa, aku seperti mendapat apa yang kata orang 'Berkah Ramadhan' dan beberapa yang kupelajari dari momen tersebut akan kubagi lewat tulisan ini.

Jika sebelumnya aku berbagi cara meningkatkan jumlah kunjungan web hingga 300% dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan, kali ini aku ingin ceritakan bahwa tanpa Google pun sebuah website bisa meningkatkan jumlah kunjungan hingga 5 kali lipat atau 500% melalui content marketing.

Search Engine (SEO) vs. Social Media vs. Email Marketing
Kita tentu paham bahwa dalam content marketing, keberadaan social media, search engine optimization (SEO) dan email marketing adalah tiga variabel yang punya pengaruh kuat dalam menentukan keberhasilan (meningkatkan kunjungan web). Namun mengoptimalkan ketiga variabel tersebut tidaklah murah apalagi untuk sebuah bisnis atau startup company yang baru berdiri.

Melakukan SEO terlihat lebih murah dibanding search engine marketing (SEM) tapi gaji ahli SEO pun tidaklah murah. Begitu juga untuk melakukan optimalisasi media sosial, butuh seorang strategis yang betul paham dunia digital dan tim yang kuat untuk sukses melakukan kampanye di media sosial. Email marketing pun butuh waktu lebih lama dan usaha lebih besar jika kita belum memiliki modal trafik cukup tinggi.

Memang semua itu adalah sebuah kondisi ideal yang mesti dilakukan jika ingin melakukan content marketing secara serius. Dari pertimbangan tersebut maka sebuah UKM atau startup company perlu membuat keputusan tepat; sehingga pertanyaan yang mesti dijawab adalah:

Variabel manakah yang mesti jadi fokus sebuah startup company?
Menurutku SEO, media sosial atau email marketing pada jangka pendek dapat dilakukan secara terpisah namun ketiganya mesti dilakukan bersama-sama pada jangka panjang. Sehingga tidak ada variabel yang lebih baik dilakukan lebih dahulu dibanding lainnya, tapi ada hal yang bisa jadi pertimbangan.

Search Engine Optimization (SEO)
Selain membutuhkan bantuan ahli SEO yang tidaklah murah upahnya, metode dari pengerjaan SEO pun seperti menanam biji mangga; butuh waktu yang lama untuk merasakan manis buahnya. Namun melakukan SEO adalah pondasi baik dalam mengembangkan bisnis online, karena search engine seperti Google adalah sumber trafik terbaik kala bisnis (website) belum memiliki audience tetap.

Media Sosial
Jika sebuah bisnis (website) telah memiliki kunjungan trafik yang tinggi dan audience tetap maka mengumpulkan fans melalui media sosial bukanlah hal yang sulit. Tapi mempunyai jumlah fans yang banyak di media sosial adalah percuma jika kita tidak dapat mengubahnya menjadi konsumen yang secara kontinu melakukan pembelian.

Di sinilah fungsi seorang social media strategist, menciptakan kampanye pemasaran di media sosial guna mengoptimalkan jumlah fans agar berubah menjadi konsumen. Dan inilah yang akan menjadi senjata rahasia buat kita meningkatkan kunjungan hingga berlipat-lipat tanpa Google.

Email Marketing
Bukan hal yang tidak mungkin mengumpulkan fans atau calon konsumen melalui email di masa awal sebuah bisnis tapi juga bukan hal yang mudah untuk melakukannya. Konsepnya sama seperti mengumpulkan fans di media sosial, tidak akan berguna kita memiliki database ribuan email calon konsumen jika tidak mampu memanfaatkannya secara benar.

Melipat-gandakan Kunjungan Web Tanpa Google
Apa rahasianya? aku hanya memiliki konten yang tepat lalu menyebarkannya di waktu dan media yang tepat. Maka pertanyaan yang tepat adalah bagaimana menciptakan konten tepat guna dan di mana media penyebarannya?

Pertama biar kuperlihatkan grafik di atas adalah bukti peningkatan kunjungan web yang kudapatkan hingga mencapai 5X lipat dan percaya tidak percaya itu kudapat bukan dari search engine melainkan media sosial/referral.

Sesuai dengan judul artikel ini, tanpa search engine kita dapat meningkatkan kunjungan web hingga berkali-kali lipat melalui media lain. Sebab pengunjung datang tak melulu melalui search engine, tapi juga bisa datang melalui email, media sosial atau secara langsung (direct traffic).

Cukup sederhana bukan? Yang kulakukan hanyalah menyebar konten yang dibuat melalui media sosial dan kemudian BOOM! konten tersebut menjadi viral dan kunjungan web pun meningkat sampai server lewati batas bandwidth, karenanya grafik langsung terjun bebas di kemudian harinya.

Bagaimana cara membuat konten yang viral?
Banyak ahli yang telah menjawabnya, tapi aku pikir perlu menjawabnya melalui tulisan ini dari sudut pandang pengalamanku sendiri. Singkatnya, konten yang viral adalah konten yang sesuai dengan target audience hingga timbul rasa bangga menunjukkannya ke orang lain.

Dari definisi tersebut, yang perlu kita cari tahu adalah demografi target audience (pembaca) dan apa yang membuat mereka tertarik untuk membaca. Dalam kasusku, target pembacanya adalah murid SMA atau sederajat dan mahasiswa/i yang baru saja duduk di bangku kuliah. Kebanyakan dari mereka masih sangat bangga terhadap almamater sekolahnya, apalagi jika mendengar berita baik dari alamamaternya.

Selanjutnya aku dapat menyimpulkan bahwa konten seputar sekolah dan universitas akan lebih menarik dibanding artikel seputar tips umum. Kuberi contoh: "Sekolah Terbesih se-Indonesia", "Universitas Negeri Jakarta Punya Gedung Baru" adalah judul artikel yang mudah menjadi viral dengan target pembacaku tersebut. FYI: Judul artikel seperti judul email, itu berpengaruh besar pada traffic.

Membuat konten yang viral tidak cukup dengan konteks yang heboh atau kontroversial, tapi juga sesuatu yang representasikan diri para pembaca. Berita tentang "UNJ Kebakaran" bisa menjadi viral, tapi berita soal "Lulusan UNJ Sering Menjadi Guru Terbaik di Sekolah" akan menjadi viral lebih lama karena konteksnya menyentuh diri tiap pembaca.
Pembaca akan rela menyebarkan sebuah konten jika konteksnya representasi positif dirinya sendiri; atau yang disebut narsis.

Media apakah yang tepat guna menciptakan viral?
Saat ini kupikir media sosial adalah tempat ideal untuk menciptakan gelombang viral; Facebook, Twitter atau Path sekalipun yang notabene media sosial privat dapat menciptakan efek viral. Masih ingat kasus tentang Dinda si Anak Kereta? Itu adalah bukti gelombang viral dapat tersebar hingga lintas media.

Namun aku memilih Facebook sebagai media publikasi sebab algoritmanya yang mudah untuk menciptakan gelombang viral. Konsepnya, Facebook akan selalu memperlihatkan sebuah konten di news feed pengguna jika konten tersebut banyak direkomendasikan (shared) oleh orang lain tanpa melihat waktu publikasinya.

Berbeda dengan timeline (news feed) Twitter yang pakai konsep real-time dimana seluruh tweet ditampilkan berurutan sesuai waktu posting. Sehingga kita perlu me-tweet ulang konten jika ingin terus tampil di timeline pembaca.

Dengan algoritma Facebook tersebut, mestinya waktu posting bukanlah hal krusial namun patut diperhatikan; misalnya lakukan publikasi di tengah malam dan tengah siang akan mendapat jumlah respon yang berbeda karena jelas di malam hari tidak semua pembaca masih bangun kan? intinya, pilih waktu publikasi dimana target pembaca kita banyak berkumpul.



Terima kasih telah meluangkan waktu membaca tulisanku, jangan lupa baca tulisanku sebelumnya tentang pemasaran digital dan email marketing sebab banyak penjelasan di tulisan ini yang telah kubahas detil di tulisan sebelumnya.

Semoga bermanfaat.


I need to read more

Senin, 16 Juni 2014

Cara Praktis Menentukan Pilihan Capres Bagi Orang Yang Terlalu Sibuk Untuk Riset

Salam,

Bukan tidak mungkin salah satu rahasia menjadi bahagia sepanjang hidup adalah dengan tidak bicara politik atau terlibat terlalu dalam. Dengan pertimbangan tersebut maka aku akan buat tulisan tentang politik ini sependek mungkin.

Dari dua pilihan calon presiden Indonesia, yaitu: Prabowo Subianto dan Joko Widodo hanya satu yang kunilai pantas kupilih. Bagaimana proses aku memilihnya? ijin aku menjelaskannya:

Menyambungkan Titik
Sebuah pidato Steve Jobs yang terkenal membahas tentang menyambungkan titik (connecting the dots). Konsep yang menurutku akan membuat kita senantiasa bersyukur pada apa yang kita terima hari ini dengan menelisik apa yang telah terjadi di masa lalu; terlepas baik atau buruk masa lalu tersebut.

Prabowo Subianto dan Joko Widodo memiliki masa lalu yang berbeda karena memang hidup manusia tidak ada yang sama, tho? Perbedaan dan kesulitanku dalam menggunakan konsep connecting the dots pada capres kali ini adalah aku harus menelisik the dots milik kedua capres.

Aku menggunakan pemberitaan media yang tersebar di tivi dan internet sebagai dasarku dalam connecting the dots Prabowo ataupun Joko. Dari kedua tokoh tersebut, aku melihat Joko lebih terencana dan tercitra positif di media publik dibanding Prabowo.

Aku mengetahui sosok Prabowo Subianto melalui iklan tivi yang menjunjung positif namanya, sedangkan aku mengetahui sosok Joko Widodo melalui pemberitaan tivi yang juga sama-sama menjunjung.

SEO vs. SEM
Setelah itu aku makin sering mendengar nama kedua tokoh tersebut di media yang sama namun dalam konteks yang berbeda; jika Prabowo lebih sering terdengar dengan perhimpunan tani dan partai GERINDRA, sedangkan Joko lebih sering terdengar terkait mobil esemka dan pengangkatannya menjadi gubernur Jakarta.

Entah, apakah Joko punya rencana yang sangat strategik dan tim yang ambisius sehingga mampu mengendalikan media pemberitaan sejak dirinya masih di Solo hingga sekarang. Karena berita tentang dirinya cukup menarik perhatianku, yang lebih terlihat alamiah dibanding iklan buatan Prabowo.

Jika kita tahu ada SEO dan SEM, maka Joko seakan-akan lebih fokus menghamburkan uang pada SEO sedangkan Prabowo fokus ke SEM. Dan menurutku, melakukan SEO lebih sulit dibanding SEM walau keduanya patut dilakukan.

Prabowo atau Joko?
Dengan pengetahuan politikku yang cekak, sosok Joko lebih terlihat menjanjikan buatku karena titik (the dots) yang dia miliki dan terberitakan lewat media lebih bagus dibanding Prabowo. Andaikan Prabowo lebih menonjolkan tindak nyatanya setidaknya setahun terakhir sebelum maju jadi calon presiden, bukan tidak mungkin aku menilai dirinya sama seperti Joko.

Jadi, begitulah cara praktisku memilih calon presiden. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana caranya menyingkirkan rasa malas untuk datang ke TPS nanti.

Terima kasih.


I need to read more

Sabtu, 24 Mei 2014

Cara Meningkatkan Waktu Kunjungan Web Tanpa Perlu Mengerti SEO

Masih bahas soal content marketing; jika sebelumnya aku menunjukkan cara meningkatkan trafik web hingga 100% dalam waktu kurang dari tiga bulan yang melibatkan optimasi konten, media sosial dan SEO, selanjutnya di tulisan ini aku akan menerangkan mendetil soal optimasi konten.

Yang kujelaskan di sini adalah hasil eksperimen dari pengalamanku bekerja di sebuah media online anak SMA ternama di Indonesia.

Berbekal konten berkualitas, mendapatkan grafik seperti ini adalah mungkin.
Aku menggunakan optimasi konten karena yang kulakukan adalah mengubah konten dari waktu ke waktu untuk menghasilkan nilai (value) maksimal. Indikatornya adalah jumlah kunjukan (web traffic), lama waktu kunjungan, bounce rate hingga jumlah halaman yang dibuka (page per visit).

Sehingga tanpa perlu mengerti teknis SEO bahkan kode HTML, siapapun dapat meningkatkan waktu kunjungan web dengan mudah dan instan.

Variabel Konten
Konten adalah produk yang kita jual ke konsumen, bentuknya bisa berupa teks, gambar atau video. Namun aku akan menjelaskan optimasi konten dalam bentuk teks; bukan tidak mungkin pun menggunakan gambar dan video sebagai alatnya.

Kelebihan menulis teks (artikel) pada media online adalah pembaca dapat berinteraksi dengan konten, sehingga penulis dapat menyampaikan pesan lebih efisien. Misalnya, penulis web dapat menyertakan pranala (link) ke halaman lainnya.


Media offline masih menjadi primadona karena pengalaman memegang dan membolak-balik kertas yang tak tergantikan.


Karena antara media online dan offline memiliki kelebihan tersendiri, hal tersebut menciptakan perilaku membaca yang berbeda-beda. Misalnya: pembaca media online cenderung menghabiskan waktu baca lebih sedikit dibanding saat membaca media offline.

Pemahaman tentang perilaku pembaca tersebut yang menjadi dasar pemikiran kita dalam melakukan optimasi konten. Seperti yang telah kusebut sebelumnya, parameter kesuksesan yang kugunakan adalah lama waktu kunjungan (time per visit), bounce rate dan page per visit. Berikut adalah metode untuk meningkatkan waktu kunjungan tanpa SEO:

Membuat judul yang provokatif
Judul artikel memang tidak berpengaruh langsung terhadap lama waktu baca tapi hal ini adalah faktor utama dalam mendatangkan para pembaca, sama halnya seperti meningkatkan kunjungan web pada email marketing.



Menulis artikel cukup panjang
Menurut data Medium, sebuah artikel yang paling banyak dibaca pada media online rata-rata memiiki 1.600 kata. Ada yang menyarankan untuk tidak menulis artikel terlalu panjang media online karena pembaca online lebih mudah bosan, tapi menurutku kita bisa saja menulis artikel super panjang dan tetap bisa mendapat banyak pembaca. Misalnya The Verge dengan artikelnya yang berjudul 'Fanboy'.


Terlepas dari kualitas konten, semakin panjang artikel maka semakin lama waktu pembaca di media tersebut.


Dari kacamata SEO, semakin panjang sebuah artikel maka semakin bagus karena memiliki banyak kata kunci yang dapat ditemukan pembaca lewat mesin pencarian.

Menyelipkan pranala ke artikel terkait
Pada media offline, referensi data yang digunakan penulis disebut pada akhir artikel. Sedangkan pada media online, penulis dapat langsung menyertakan sumber data melalui pranala (link) di antara tulisan.

Hal tersebut pun dapat kita manfaatkan untuk memancing pembaca untuk terus membaca konten lain yang kita tawarkan. Hingga pada akhirnya waktu kunjungan tiap pembaca akan meningkat. Tinggal merancang bagaimana menempatkan pranala yang tepat dan cukup provokatif untuk diklik oleh pembaca.



Banyak orang melampirkan pranala dengan kata "di sini" atau "klik di sini"; itu kurang deskripsif. Yang kulakukan adalah membuat kalimat deskriptif yang relevan dengan konten dan menjelaskan apa isi pranala tersebut.

Menulis call-to-action yang jelas
Dalam bidang pemasaran, call-to-action berarti tujuan akhir diharapkan. Misalnya, sebuah iklan produk di TV memiliki call-to-action agar penonton membeli produk tersebut.

Berbeda dengan media offline, penulis pada media online mesti punya call-to-action dalam setiap artikelnya secara jelas. Kita tentukan saja call-to-action kalian adalah membuat pembaca membaca artikel selanjutnya, maka yang bisa dibuat adalah membuat pranala di dalam setiap artikel.

Umumnya penulis media online mengarahkan pembaca untuk berkomentar atau membagi konten ke media sosial seperti teknik growth hacking Medeka.com

Menempatkan gambar secara lebar
Jika dahulu di Indonesia menampilkan gambar besar pada web dinilai tidak efektif karena memperlambat load time web, tapi kini dengan semakin cepatnya koneksi internet hal tersebut semakin tidak relevan.

Menampilkan gambar besar (full-width) dan relevan dengan konten akan membuat pembaca lebih lama memproses konten. Tak heran website yang terkenal dengan kontennya seperti buzzfeed.com dan upworthy.com sering menampilkan gambar besar.


Grafik di atas menunjukkan waktu rata-rata kunjungan yang cenderung meningkat setelah menambahkan gambar pada konten yang kubuat. Bahkan tidak hanya waktu kunjungan, jumlah kunjungan yang datang pun cederung meningkat.

Bukan hal yang mengejutkan kalau jumlah kunjungan pun meningkat karena konten gambar menambah pembendaharaan kata kunci, hanya jika kita menaruh nama file, ALT dan TITLE gambar sesuai kata kunci yang dituju.

Menampilkan data lewat tabel/infografis
Masih terkait pada poin sebelumnya, infografis memang cenderung memperlambat load time web tapi efektif meningkatkan lama waktu kunjungan dan jika memang data yang ditampilkan sangat bermanfaat maka tipe konten ini efektif meningkatkan jumlah share ke media sosial.

Menaruh video yang terlalu menarik
Aku masih terus melakukan ekperimen di teknik video ini tapi secara logika mestinya ini cukup efektif meningkatkan waktu kunjungan web karena jika video yang ditawarkan menarik maka pembaca akan menontonnya.

Kita dapat mencari video yang relevan melalui Youtube, Vimeo, 9GAG.tv atau lainnya. Karena kita tidak mengeluarkan biaya untuk membuat video maka teknik ini sangat efisien.



Bacaan lebih lanjut:



Semoga bermanfaat.


I need to read more

 
Amal Agung Cahyadi