Sabtu, Mei 18, 2013

5 Hal Yang Dapat Dilakukan Oleh Mereka Yang Berhenti Kuliah Agar Bisa Bersaing Sukses

Salam,

Banyak tokoh sukses yang tidak meneruskan kuliahnya atau bahkan tidak mengikuti pendidikan setingkatnya; sebut saja Steve Jobs dan Bill Gates atau Bob Sadino pengusaha asli Indonesia. Namun, hal tersebut tidak semerta-merta membenarkan bahwa untuk sukses itu tidak perlu kuliah.



Sebelumnya kita tentukan dahulu apa definisi 'sukses' yang akan dibahas. Menurut KBBI, sukses adalah: berhasil; beruntung. Walau begitu, mari kita samakan persepsi bahwa 'sukses' adalah menjadi karyawan atau pengusaha dengan pendapatan atau pengeluaran setingkat "kelas menengah".

Siapa itu kelas menengah? 

Terangkum dalam tulisan Yuswohady, Asia Development Bank (ADB) di tahun 2010 mendefinisikan 'kelas menengah' adalah mereka yang punya pengeluaran $2-20 perhari. Tak hanya itu, kelas menengah pun dapat diidentifikasi secara kualitatif misalnya tingkat edukasi dan pekerjaan.

Setelah sepakat soal definisi 'sukses', mari membahas bagaimana dunia kuliah mempengaruhi kita untuk sukses.

"Dunia kuliah bagai sangkar emas yang mengurung kita dari dunia nyata. Di dalam sangkar, kita diberi pelajaran sehingga kita punya keahlian untuk dapat bertahan hidup." itu yang diartikan kebanyakan orang, padahal menurutku dunia kuliah lebih dari sekedar sangkar emas: 
Lingkungan Belajar. Kampus sebagai tempat belajar memang dirancang untuk menjadi inkubator agar kita dapat melakukan kesalahan tanpa menerima resiko kerugian finansial atau sosial yang besar. 
Akses Bebas. Menjadi mahasiswa adalah hal yang paling menyenangkan; mendapat keringanan biaya di banyak tempat, bisa melakukan penelitian, hingga mampu bekerja magang di perusahaan. Dengan kata lain, mahasiswa adalah tiket bebas masuk mencoba segala hal yang kita inginkan untuk belajar. 
Jaringan pertemanan. Kita adalah generasi masa depan bersama dengan teman-teman satu angkatan di kampus. Teman-teman kuliah adalah investasi masa depan, karena mungkin saja mereka akan menjadi membantu kita di dunia kerja. Jadi, dunia kuliah pun tempat berjejaring sosial buatan dimana kita tak perlu repot berkenalan dengan orang baru. 
Korelasi dari lingkungan belajar, akses bebas dan jaringan pertemanan di dunia kuliah akan memudahkan kita untuk sukses. Ketiga hal tersebut bisa didapatkan secara instan dengan cara masuk ke perguruan tinggi, tapi bukan berarti tanpa kuliah kita tak bisa mendapat tiga hal itu. 

Kini pertanyaannya:
Apa yang dapat dilakukan mereka yang berhenti kuliah agar bersaing sukses?


Terlepas dari apa motivasi atau penyebab berhenti kuliah, ada banyak hal yang kita lakukan untuk dapat bersaing dengan mereka lulusan universitas. Karena gelar/jabatan tidak semerta-merta menentukan kualitas seseorang maka itulah yang pantas menjadi motivasi positif bagi kita yang berhenti kuliah.

Berikut adalah daftar kegiatan yang bisa dilakukan berdasarkan pengalaman pribadiku:

1. Membuat daftar riwayat hidup
Membuat curriculum vitae(CV) menjadi penting untuk dilakukan segera karena ini adalah rangkuman modal yang kita miliki untuk 'menjual' diri kepada orang lain. Kumpulkan semua prestasi & pencapaian selama hidup ke dalam format riwayat hidup.

Saat waktunya melamar kerja, pilihlah hal yang relevan dengan posisi pekerjaan yang kamu lamar. Tulis CV-mu secara simpel dan jelas maksimal 2 halaman, pisahkan antara CV dengan portfolio karya dan hal lainnya. Permudah pekerjaan orang yang merekrutmu dengan tidak menyita banyak waktunya untuk membaca profilmu.

Carilah banyak referensi membuat CV yang tak hanya baik tapi juga menarik atau mulailah dengan melengkapi daftar riwayat hidup digital melalui media sosial.


2. Membuat prioritas hidup
Kuliah adalah jembatan panjang dan sukses berada di ujungnya. Saat memutuskan untuk terjun dari tengah jembatan maka kita butuh memikirkan bagaimana caranya mencapai ujung jembatan (sukses) dari kolong jembatan tersebut.

Terutama bagi kamu yang masih galau untuk meneruskan kuliah atau tidak, tentukan secepatnya! buat prioritas, jangan sampai menyesal saat kau telah terjun dari atas jembatan. Buatlah prioritas dengan menuliskan target-target yang harus dicapai dalam 1-2 tahun agar kita tetap termotivasi.


3. Magang atau berdagang
Tawarkan dirimu untuk magang di perusahaan yang kamu sukai dan pelajarilah segala hal tentangnya. Misalnya: aku yang sangat menyukai teknologi, bermimpi untuk bekerja di perusahaan teknologi seperti Google dan sekarang dua tahun sudah aku belajar banyak hal di sebuah perusahaan yang bermula dari magang.

Jika kamu menyukai industri desain grafis, maka tawarkan dirimu ke agensi atau perusahaan desain agar bisa membantu apapun disana. Di posisi seperti ini, carilah perusahaan yang dapat memberikanmu pengalaman paling berharga. Kesampingkan dulu pemikiran soal uang yang kamu terima.

Atau cobalah untuk berdagang, dengan begitu kita dapat belajar lebih cepat dari pengalaman; hal yang tak didapat oleh mereka di kelas kuliah. Di dunia digital seperti sekarang, harusnya modal finansial bukan lagi halangan untuk mulai bisnis.


4. Berteman dengan profesional
Bangun jaringan pertemanan, bertemulah dengan orang baru terutama mereka yang juga berada di industri tempat kita bekerja/sukai. Semakin banyak orang yang kenal dengan kita maka semakin banyak peluang yang bisa kita dapat. Carilah tempat berkumpulnya, dan ikutlah acara yang mereka hadiri.

Biarkan mereka tahu apa yang kamu lakukan, dengarkan cerita mereka dan sampaikan ide & solusi dari masalahnya. Saat ini banyak komunitas yang terbentuk dari ranah digital, kita bisa mulai mendekati mereka dan belajar banyak darinya.


5. Ambil semua peluang
Setelah kita bekerja di tempat yang kita sukai, berteman dengan banyak orang maka waspadalah terhadap peluang yang bisa datang kapan saja. Tangkaplah dan beranikan diri untuk mengambilnya walaupun kita hanya punya modal diri saja.

Dimulai dari CV yang telah kita buat, dikorelasikan dengan prioritas hidup dan kegiatan belajar di tempat magang; kita sudah punya cukup modal untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Mulai ukur kemampuan diri kita dan kemudian sesuaikan dengan peluang yang kita dapat, dengan begitu kita akan tahu seberapa kuat kita bersaing dengan orang lain.



Pada akhirnya yang membentuk kualitas diri bukanlah dari gelar pendidikan melainkan kemampuan melaksanakan tanggung jawab baik di tempat kerja ataupun di kehidupan sosial. Semoga bermanfaat.

Baca selanjutnya, klik disini.

Minggu, April 21, 2013

Cara Untuk (Tidak) Melakukan Pencitraan

Salam,

Masih terekam di telingaku, kata Dia aku ini jago melakukan pencitraan. Entah apa yang dimaksud, pastinya itu adalah hal buruk baginya. Karena opini tersebut aku akan menjelaskan serba-serbi pencitraan lewat tulisan ini dalam bentuk tanya-jawab.



Definisi Pencitraan
Sebelum lanjut ke penjelasan praktikal, kita coba pahami dulu apa definisi pencitraan. Berasal dari kata dasar 'citra' yang menurut KBBI adalah gambaran yg dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, atau produk. Dengan kata lain, citra adalah milik orang lain bukan pribadi atau organisasi terkait.

Apakah citra bisa dibentuk?
Dalam ilmu pemasaran, ada teori (personal branding) yang mengiyakan pertanyaan tersebut; entahlah dalam ilmu sosial, namun sepertinya pun bisa.


Apakah melakukan pencitraan itu baik?
Baik selama tujuannya positif; ingatlah bahwa berperilaku baik belum tentu berhati baik tapi berhati baik tentu (biasanya) berperilaku baik. Bahkan dalam agama pun manusia diserukan berperilaku baik dihadapan Tuhan; karena pencitraan adalah soal tindakan dan kebiasaan.

Seperti bajaj; hanya Tuhan dan pengendara(pelaku) yang tahu kemana arah bajaj tersebut berbelok. Begitupula semua tindakan; hanya Tuhan dan diri kita yang paham apa maksud dan tujuan pencitraan.


Apa yang membuat pencitraan itu buruk?
Masyarakat itu sendiri; asumsi yang tersebar dan media yang mengembar-gemborkan berita soal tindakan seseorang menciptakan pemikiran subjektif terhadap pencitraan tersebut. Sosok ideal yang hadir di dalan kepala kita menjadi indikator dalam menilai seseorang; contohnya pemerintahan selalu di-cap buruk oleh masyarakat sehingga apapun kebaikan yang dilakukan salah satu tokoh di dalamnya dinilai hanyalah sebuah pencitraan.

Media sosial; adalah salah satu hal yang bisa kita kambing hitamkan atas segala persepsi masyarakat, belum lagi dengan media konvensional.


Bagaimana cara untuk melakukan pencitraan?
Rajin shalat; sering menabung; rutin gosok gigi; belajarlah menjahit. Got it?


Tak tambahkan sedikit bagaimana cara melakukan dan menjaga pencitraan:

Pertama, kita mesti paham siapa target audience yang menjadi 'korban' pencitraan; apakah orang tua, teman, kakak ipar atau calon mertua, Kemudian mencari tahu dimana mereka sering beraktivitas karena itu tempat sasaran kita melakukan pencitraan.

Kedua, pilihan tempat yang paling murah dan mudah untuk melakukan pencitraan adalah di media sosial. Jika kamu memiliki media konvensional(TV, koran, radio) milik sendiri maka akan lebih mudah lagi. Mengapa media sosial? karena itulah tempat publik digital dimana semua orang dapat berasumsi tentang diri kita.

Ketiga, bayangkan hasil akhir dari pencitraan kita; misalnya kita ingin dikenal 'punya banyak uang' maka kita mesti membuat rencana strategik dan taktikal yang mengasosiasikan diri kita dengan kekayaan. Misalnya: memperlihatkan dimana kita kerja, dimana kita beraktifitas atau apa yang kita kenakan.

Empat, kurangi frekuensi berkomunikasi secara langsung atau tidak langsung dengan target audience tapi pastikan mereka melihat apa yang kita kerjakan. Ini penting agar memudahkan mereka dalam berasumsi dan juga berkaitan dengan pengukuran keberhasilan pencitraan kita.

Lima, konsistensi penting setelah mendapat tujuan akhir dan membuat rencana. Parameter sukses tidaknya pencitraan kita dapat dilihat saat orang lain berpendapat tentang kita. Ini terkait dengan tindakan 'menghilang'-nya diri kita (poin empat) dari publik.


Bagaimana cara untuk tidak melakukan pencitraan?
Tidak tahu; saya kan ahli pencitraan :) *lelucon*


Apapun yang kalian lakukan akan selalu memberi impresi pada orang lain sehingga timbul pencitraan terhadap pribadi kalian. Bagaimana bentuk pencitraan orang lain terhadap kalian? itulah tanggung jawab kalian kepada Tuhan YME, jika kalian mempercayai-Nya maka citrakanlah dirimu baik di hadapan-Nya dan sesama makhluk-Nya.


Kalian bisa melakukan mulai pencitraan baik dengan melengkapi riwayat hidup digital-mu. Terima kasih. Mari diskusi!



Baca selanjutnya, klik disini.

Jumat, Maret 22, 2013

Menjadikan Media Sosial Sebagai CV Digital

Salam,

Di jaman serba digital, media sosial telah menjadi bagian dari kebiasaan orang dalam keseharian. Pertanyaannya adalah "apakah media sosial bermanfaat positif?", jawabannya sangat relatif dengan cara kita menggunakan media sosial tersebut.

Facebook, Twitter adalah media sosial paling banyak digunakan dan bisa jadi adalah media sosial paling tidak bermanfaat bagi kebanyakan orang; memang pernyataan subjektif.


Bagi para pekerja atau karyawan, Linkedin bukan barang baru; media sosial ini memang terkenal di kalangan profesional. Misi diciptakannya Linkedin saja untuk menghubungkan para profesional agar lebih produktif dan sukses. Bagaimana caranya?

Tulisanku kali ini akan menjelaskan bagaimana Linkedin bisa menggantikan daftar riwayat hidup atau bahkan digunakan sebagai surat lamaran kerja!


Gambar diatas adalah screenshot dari halaman profilku di Linkedin, terlihat format data yang ditampilkan memang dibuat seperti surat riwayat hidup. Di sinilah orang lain dapat melihat pengalaman kerja dan keahlian kita lengkap dengan rekomendasi dari orang lain jika ada.

Angka pengangguran di Indonesia sangat tinggi tapi banyak perusahaan yang mengaku kesulitan mencari pegawai; paling tidak perusahaan tempatku bekerja sekarang. Sulitnya mencari kandidat yang tepat adalah isu krusial bagi sebuah korporat karena pegawai adalah aset terpenting bagi mereka.

Kita dapat memanfaatkan problematika diatas dengan memaksimalkan media sosial seperti Linkedin ini. Karena banyak dan mungkin hampir semua korporat mencari kandidat melalui media sosial, kecuali korporat tingkat nasional atau multi-nasional; biasanya mereka menggunakan jasa headhunter untuk urusan mencari pegawai.

Ya! memang rasanya terlihat pamer jika kita menuliskan riwayat hidup di publik tapi prinsipku adalah


Bagaimana kita dapat berguna jika orang lain tak tahu apa kebisaan kita?




Tak ada salahnya mengisi penuh semua kolom di Linkedin dan Facebook, karena rejeki bisa datang darimana saja termasuk dari media sosial. Pekerjaan yang kudapat sekarang saja sebagian besar karena media sosial lho!

Dulu aku sering sebut hal seperti ini adalah 'pencitraan' dan kini harus diakui, kita semua melakukannya; hanya saja jangan sampai kita mencitrakan kebohongan publik.


http://id.linkedin.com/in/akhmadamal/
https://twitter.com/akhmadamal

Terima kasih.


Baca selanjutnya, klik disini.

Minggu, Maret 10, 2013

Pengalaman Baik Bekerja di Perusahaan Startup

Salam,

Sedikit ada keraguan untuk menulis artikel ini karena keobjektifan hasil tulisanku nanti. Tapi biarlah, demi spirit berbagi antar sesama kuputuskan untuk mendokumentasikan pengalamanku bekerja di sebuah startup company di bidang pasar online(marketplace).


Tulisan ini akan kubagi menjadi dua bagian: pertama menjelaskan soal keuntungan bekerja di startup, bagian kedua menceritakan sebaliknya.

Hampir 2 tahun aku mengabdikan diri, bereksperimen, merealisasikan ide dan ikut andil membenahi 'semuanya'. Berawal dari hanya dua orang karyawan hingga kini berkembang menjadi puluhan orang melahirkan sistem birokrasi yang kurasa membunuh sebagian jiwa perusahaan.

Bekerja pada sebuah perusahaan startup mempunyai kelebihan tersendiri dibanding perusahaan besar semacam: Pertamina, Telkomsel atau bank skala nasional. Beberapa yang dapat kurangkum adalah:

Anti-Birokrasi
Di tempatku bekerja, birokrasi adalah musuh besar kami walau tidak(belum) tertulis di atas kertas; kami bekerja sesuai keahlian masing-masing dan berkolaborasi gabungkan ide serta pendapat dari semua orang. Tiap karyawan punya hak suara dan keputusan diambil berdasarkan kesepakatan bersama, tidak ada birokrasi panjang untuk sekedar memperbaiki kesalahan penulisan, mengganti baterai jam dinding atau membunuh lalat yang berkeliaran.

Ladang Pengetahuan
Selalu ada hal baru yang terjadi pada sebuah perusahaan startup, dan hal baru tersebut yang mungkin tak banyak terjadi di korporasi besar skala nasional. Karena jumlah karyawan yang masih sedikit, maka kami dapat merasakan dan mengevaluasinya. Dari perubahan tersebut aku dapat belajar dan mengenal lebih dalam; hal yang tak diajarkan di kelas kuliah, dapat kupelajari di momen ini.



Fleksibilitas
Sebagai budak korporasi, tentu seorang karyawan terikat pada aturan dan ketentuan selama bekerja tapi hal tersebut tidak banyak terjadi di perusahaan startup. Walau beberapa memperlakukan karyawannya seperti institusi negeri, namun mereka pasti diberikan kenikmatan(perk) lain. Di tempatku bekerja, perk yang kurasakan adalah fleksibilitas jam datang ke kantor (bukan jam kerja). Kami(setidaknya diriku) sering bekerja lebih dari 10 jam perhari, bahkan selepas jam kantor(di rumah) aku tetap mengurusi hal pekerjaan.

Spirit Entrepreneur
Pada dasarnya semua perusahaan adalah hasil kerja para entrepreneur, dan yang aku suka adalah kenikmatan bekerja yang kurasakan sama seperti kenikmatan menjalankan bisnis yang pernah kurasakan. Keberhasilan perusahaan adalah bagian dari kesuksesanku, walau perasaan tersebut nampaknya akan kian terkikis seiring berkembangnya perusahaan yang mulai melepas predikat 'startup'.

Muda & Full-Passion
Tidak semua orang mau bekerja di sebuah perusahaan startup. Mengapa? umumnya karena ketidakjelasan masa depan perusahaan; terlebih lagi tidak ada kepastian model bisnisnya akan berhasil(baca: menguntungkan). Di jaman(yang katanya) sulit mencari pekerjaan, bekerja di perusahaan yang bonafit tentu jadi impian semua orang dibanding bekerja sukarela apalagi di perusahaan tak jelas(baca: startup).
Siklus finansial pada startup. sumber: wikipedia.org
Namun, justru inilah yang mengeliminasi orang-orang yang money oriented. Menyisakan orang 'gila' yang mau mengambil resiko kehilangan pekerjaan hanya untuk mendapat tantangan baru, dan mereka ini adalah anak muda yang berani dan belum punya banyak tanggung jawab (baca: keluarga).

Gaya Hidup Modern
Kini bekerja sebagai netpreneur atau entrepreneur tidak lagi memalukan, justru saat ini banyak sekali seminar dan workshop soal cara menjadi wirausahawan. Kini para mahasiswa tak malu lagi untuk berdagang sambil mengejar gelarnya. Dan itu semua punya gengsi yang sama seperti bekerja pada sebuah startup; pada kalangan tertentu, bekerja di startup memiliki nilai plus tersendiri apalagi jika kemudian terbukti sukses dan berkembang pesat.


Sekian tulisan bagian pertama, selanjutnya aku akan menuliskan kerugian atau resiko bekerja pada sebuah startup. Silakan follow twitterku @akhmadamal atau kirim email ke amal@agungcahyadi.com jika ingin berkomunikasi langsung denganku.

Sampai jumpa.

Baca selanjutnya, klik disini.

Minggu, Februari 24, 2013

Agro Wisata Perkebunan Teh Gunung Mas

Salam,

Sebenarnya sudah cukup lama aku memiliki kamera DSLR namun belum sempat aku buat tulisannya saja, tapi ya sudah; toh tak jadi masalah. Aku lebih senang berbagi foto hasil jepretanku, apalagi jika foto tersebut bisa memberikan arti bagi orang lain yang ku ambil fotonya.

Jalan menuju perkebunan teh Gunung Mas.
Seperti yang telah aku lakukan pada pertengahan Februari kemarin, bersama teman-temanku kami jalan-jalan menyusuri perkebunan teh Gunung Mas, Puncak - Bogor. Aku sangat senang mengambil gambar dari orang sekitar secara diam-diam(candid), mungkin karena lebih terasa humanis buatku dibandingkan memfoto seorang model di studio.

Dipotret dengan penuh cinta oleh Afif

Perjalanan yang menyenangkan dinilai bukan sekedar dari tempat tujuan, tapi juga hal-hal yang berhasil didokumentasikan.

Foto-foto ini memang tampak biasa tapi ada cerita menarik yang akan menjadi kenangan, terutama bagi mereka berdua yang aku foto ini. Seharusnya sih aku mendapat royalti dari hasil fotoku yang tersebar di semua avatar dan gadget mereka berdua ini :D







Selamat kepada kalian berdua, semoga foto ini dapat menjadi bagian kenangan yang manis di kisah hidup kalian. Tak sabar untuk merekam momen bahagia selanjutnya :)

Baca selanjutnya, klik disini.

Share Button